Masyarkat yang menempati kawasan pesisir pasti akan sering mendengar tagline bahwa nenek moyang kita adalah pelaut. Ini memang bukan sebatas legenda atau cerita fiksi yang di buat-buat, namun hal tersebut adalah sejarah besar kehebatan nusantara di kala itu. Napak tilas 13 abad lalu, salah satu kerajaan besar nusantara yang dikenal dengan kerajaan Majapahit menguasai seluruh nusantara, mulai sabang sampai dengan merauke dengan status sebagai bangsa yang berdaulat. Bukan tanpa alasan Hegemoni Majapahit dikala itu yang dipimpin oleh Hayam Wuruk menjadikan kerajaan ini di akui. Penguasaan terhadap laut oleh kerajaan majapahit di klaim sebagai salah satu faktor kejayaan Majapahit.
Sejalan dengan bergulirnya waktu, terjadi semacam peralihan pembangunan yang lebih mengarah pada pembangunan berbasis daratan (land-based development). Pembangunan yang berorientasi kedaratan mengakibtakn disparitas antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Jawa menjadi satu contoh wilayah yang hanya 5,5 persen dari total luas Indonesia memberikan kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) mencapai 60 persen. Bila dibandingkan dengan wilayah sumatera yang lebih luas hanya mampu berkontribusi 25 persen terhadap PDB, sedangkan Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, Maluku dan Papua hanya menyumbangkan 15 persen. Coba di bayangkan, dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar namun dapat menyumbankgkan pendapat yang cukup tinggi untuk negera, maka memang pembangunan berbasis daratan (land-based development) memiliki tendensi sentralisasi pada wilayah tertentu.
Ketidakefektifan pembangunan berbasis daratan (land-based development) inheren dengan kondisi lapang, implikasi dari gaya pembangunan sentralistik pada satu wilayah mengakibatkan kemiskinan pada wilayah lain. Hal ini cukup di rasakan oleh masyarakat pesisir, dimana hampir 32 persen kemiskinan berasal dari mereka yang menempati kawasan pesisir, seperti para Nelayan, Petambak Garam maupun Pembudidaya ikan.
Dengan demikian, sudah saatnya arah pembangunan di fokuskan pada pembangunan yang berbasis kelautan dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya hayati yang ada guna menciptakan kondusifitas kehidupan rakyat indonesia yang sejatrah, adil dan makmur. Untuk itu, maka perlu adanya peningkatan daya saing masyarakat.
Kondisi Masyarakat Nelayan Pesisir
Ditengah hantaman pandemic Covid-19 dan UU Cipta kerja semakin mempertajam jurang penderitaan para kaum nelayan pesisir. mengapa demikian dengan mewabahnya virus covid-19 mengakibatkan penurunan pendapatan yang sangat drastis, ditambah dengan adanya UU Cipta kerja yang mengakibtakan persaingan antara nelayan domestik/tradisonal dengan nelayan asing, ini akan menguntungkan nelayan asing, sebab alat produksi yang dimiliki oleh nelayan asing lebih modern di bandingkan dengan nelayan tradisonal, disamping itu proses perizinan yang diberlakukan bagi seluruh nelayan berpotensi menghambat pertumbuhan nelayan baru karena harus mengeluarkan cost untuk perizianan.
Problema semakin-jadi dengan adanya penurunan daya beli ikan di pasar. Di masa pandemi covid-19 tingkat produksi atau penangkapan ikan akan mengalami kenaikan, namun kendala teknis yang di hadapi oleh para nelayan adalah mengenai pemasaran. Penerapan sosial berskala besar (PSBB) mengharuskan masyarakat untuk tinggal, inilah titik dimana terjadi penumpukan stock ikan. Ketika terjadi penumpukan stock maka ikan akan di jual dengan harga murah. Ketika hal ini terjadi maka terjadi kerugian yang berkepanjangan.
Selaras dengan kondisi tersebut, maka perlu adanya langkah-langkah strategis yang dilakukan intuk menanggulangi problema diatas, untuk itu perlunya inovasi baru yang dilakukan dalam pemasaran. dimana dengan merubah sistem pemasaran yang berbasis lokal market ke sistem online market sehingga pemasaran mengalami perluasan, langkah yang lain yang dapat dilakukan berupa mengolah hasil tangkapan agar memiliki nilai tambah, pemerintah membeli hasil tangkapan nelayan dengan harga yang semestinya.
Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat Nelayan Pesisir
Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat Nelayan Pesisir
Fokus pembangunan berbasiskan kelautan akan sangat di rasakan oleh masyarakat nelayan pesisir, sebab mereka bersentuhan langsung dengan segala bentuk kegiatan yang dilakukan. Mencermari hal tersebut, maka perlu adanya kesadaran kolektif dari pemerintah mapun investor untuk memfasilitasi nelayan dalam berbagai aspek pembangunan yang berbasiskan kelautan. Fakta dilapang menunjukan bahwa, nelayan indonesia sangatlah tertinggal. Hal ini, di sebabkan karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan dalam menghadapi arus modereniasi yang terus bergulir.
Mindset nelayan yang kurang holisitik akan pengelolaan sumber daya ikan yang ada, mejadikan mereka terus di hantui bayang-bayang kemiskinan dan ketertinggalan. Pengalaman obyektif tersebut, perlu nenjadi evaluasi secara komperhensif oleh pemerintah dan stakholders lainnya untuk mencari solusi bagi kehidupan nelayan pesisir.
Langkah-langkah solutif seperti pendirian pepustakaan pesisir, melakukan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat nelayan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup bukan hanya semata pengguran tugas kerja. Inilah yang perlu di sikapi, bahwa upaya peningkatan taraf hidup bukanlah sebatas pada aspek kecukupan materil, tapi juga aspek IPTEK maupun spiritual.
Transformasi Nelayan, Dari Paradigma Tradisonal ke Modern
Kembali ke narasi di atas, seperti yang sudah di sampaikan bahwa nenek moyang bangsa indonesia pernah berdaulat dan berjaya di masanya. Hal ini perlu disadari oleh seluruh komponen masyarakat indonesia, bahwa kejayaan nusantara dapat diulang kembali dengan menguatkan sektor kelautan sebagai basis pembangunan. Dengan menjadikan Masyarakat Nelayan pesisir sebagai subyek peningkatan kualitas diri.
Dewasas ini, banyak orang yang menilai pekerjaan sebagai nelayan adalah pekerjaan yang tidak menguntungkan dan terkesan kolot, kumuh dan msikin. Memang tidak bisa diealakaan realitas kehidupan para nelayan yang jauh dari kata layak. keadaan tersebut di akibatkan karena kurangnya integritas semua komponen masayarakat nelayan pesisir, berkaitan dengan upaya peningkatan kehidupan yang layak. Selaras dengan hal itu, terjadi penurunan minat untuk menjadi nelayan, kondisi tersebut dapat di lihat dengan menurunya jumlah nelayan yang ada di Indonesia. Anak-anak yang terlahir sebagai anak nelayan, enggan untuk mengikuti jalan pekerjaan yang sama seperti orang tua mereka, memang ada tapi itu hanyalah sedikit. kondisi tersebut tidak terlepas dari cara pandang mereka melihat kondisi kehidupa mereka, inilah paradigma yang mengakar di kalangan masyarakat Indonesia. Bahwa menjadi Nelayan sudah pasti akan selalu tertinggal, miskin dan kumuh.
Dengan melihat kondisi tersebut, sudah selayakanya memberikan pandangan yang komperhensif mengenai pererjaan sebagai Nelayan. Nelayan secara defenisi bisa dikatakan sebagai orang yang mata pencariannya melakukan penangkapan ikan, namun lebih dari itu nelayan adalah pahlawan protein bagi kehidupan manusia. Asupan protein banyak di dapatkan dari ikan, sebab ikan memiliki kandungan protein yang sangat tinggi di bandingkan dengan daging kambing, sapi dan sejenisnya. inilah yang perlu disadari benar oleh generasi penerus.
Perubahan cara pandang dapat diikut sertakan dengan kerja-kerja nyata, berupa penyedian alat tangkap berstandar modern, menyediakan pangsa pasar yang jelas bagi para nelayan, melakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan keahlian para nelayan. Dengan adanya langkah-langkah seperti ini, akan berimplikasi terhadap perilaku dan gaya hidup nelayan. Bahwa menjadi nelayan tidak harus selalu terlihat kumuh dengan pakain compang-camping. Dengan menghadirkan berbagi langkah inovatif demi kesejatrahan para nelayan, Untuk itu untuk mengubah paradigma kelam mengenai nelayan, perlu di ikutsertakan dengan bukti-bukti konkrit dari pemerintah, investor maupun nelayan itu sendiri.