Perkembangan teknologi dewasa ini perlu dipahami sebagai bentuk kemajuan Zaman. Paradigma konvensional mulai berubah memasuki paradigma online. Artinya semua hal yang sering dilakukan dengan cara bertemu secara langsung mulai mengalami perubahan kearah yang lebih sederhana dengan menggunakan media virtual, contohnya Kerja kantoran, kerja-kerja pendidkan (Perkuliahan) maupun kerja-kerja organisasi.
Kondisi dimuka harus diakui telah mempengaruhi cara
laku maupu cara pikir generasi hari ini. koheren dengan kondisi diatas, sector
perikanan yang merupakan salah satu sector mulai merubah cara-cara kerja
konvensional ke online. Dalam wilayah praksis paradigm online dengan
menggunakan media virtual sangatlah membantu, namun hal ini akan menjadi
tantangan baru yang perlu disikapi dengan baik. Karena dampak dari adanya
kerja-kerja yang terus menggunakan paradigma online tersebut dapat berimplikasi
pada penurunan tingkat daya literasi masyarakat itu sendiri, terkhususnya insan
perikanan Indonesia.
KONDISI
LITERASI BANGSA HARI INI
Negara Indonesia merupakan Negara dengang jumlah
penduduk mencapai 271,34 Juta Jiwa. Dengan
jumlah tersebut Indonesia menduduki peringkat ke 4 dalam skala depeden atau
wilayah di Dunia. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan fakta Kemampuan
Literasi Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara atau berada 10 negara
terbawah dengan tingkat literai yang rendah. Data ini berdasarkan survey yang
di inisiasi oleh Program for International Student Assessment (PISA).
Melihat kondisi tersebut, memang perlu pembaharuan
secara komperhensif yang harus di lakukan oleh pemerintah maupun stakholders
terkait. Harus diakui bahwa secara infrastruktur dalam menunjang kegiatan
Literasi, Indoensia berada di atas Negara-negara eropa, inilah yang menjadi
perhatian kritis yang harus di analisis. Rill
memang bahwa, daya literasi bangsa hari ini masih cenderung merosot. Oleh
karenanya itu perlu adanya formulasi
yang terbaru untuk meningkatkan daya Literasi bangsa Indonesia.
Sebelum berangkat lebih jauh, dalam pembahasan
selanjutnya akan di urai mengenai apa itu Literasi Perikanan. Hal ini untuk
memberikan kerangkan ataupun jalan berpikir yang konstruktif dalam menetapkan
secara tegas betapa pentingya Literasi perikanan.
APA ITU
LITERASI PERIKANAN ?
Literasi Perikanan dapat di defenisikan sebagai
kemampuan untuk memahami, mengevaluasi setiap bentuk kegiatan atau aktivitas di
sector perikanan, dengan mengandalkan basis pengetahuan yang bersumber dari
hasil menulis dan membaca. Narasi mengenai Literasi Perikanan di ruang-ruang
dirkursus formal maupun non formal harus diakui tidak sentar terdengarkan
maupun kurang menjadi atensi oleh berbagai kalangan yang memilki hubungan erat
maupun partisipan pada sector pengahasil protein ini. Inilah yang menjadikan sector
perikanan kurang maju dalam hal peningkatan Sumber Daya Manusianya.
Prespektif akan Literasi Perikanan ini perlu di galakan secara massif, dan harus di produksi secara berkala sehingga menjadi perhatian bagi pemerintah secara utuh, akan pentingnya Literasi Perikanan. Dalam beberapa kasus insan perikanan kurang memahami persoalan Perikanan, hal ini disebabkan karena kurangnya Literasi sehingga mengakibatkan ketidakberhasilan dalam menyelesaikan problem yang dihadapi.
Problem yang sering dihadapi scara umun adalah megenai Kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi bisa disebabkan secara alamiah maupun secara structural. Kemiskinan alamiah secara sederhana dapat di tafsirkan karena kurangnya sumber daya alam yang dimiliki , sedangkan kemiskinan structural diakibatkan karena kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat tertentu.
Problema tersebut apabila dianalisis secara
fundamental, terletak pada kemampuan insan perikanan dalam menganalisis
permasalahan tersebut secara komperhensif. Menurut Surjono dan Nugroho (2007) menyatakan
terdapat tiga pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat miskin, yakni (1)
pendekatan yang terarah artinya pemberdayaan masyarakat harus terarah dan
berpihak kepada orang miskin, (2) pendekatan kelompok, artinya secara bersama-sama
untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi, dan (3) pendekatan
pendampingan, artinya dilakukan selama proses pembentukan dan penyelenggaraan
kelompok masyarakat miskin perlu didampingi oleh pendampingan yang profesional
sebagai fasilitator, komunikator, dan dinaminisator terhadap kelompok untuk
mempercepat tercapainya kemandirian.
Untuk menilai itu semua maka perlu upaya produktif
menggalakan Literasi Perikanan. Sebab sumber daya manusia yang handal dan
kompeten lahir dari basis pengetahuan dan skill
(Keahlian) yang tuntas dibidangnya. Olehnya itu kami mendorong pemerintah
terkait untuk menjadikan program literasi perikanan menjadi prioritas dalam
pengembangan dan pembangunan SDM.
URGENSI
LITERASI PERIKANAN dan DAMPAKNYA
Sesuai dengan persepsi dimuka bahwa, SDM yang handal lahir
dari kemampuan menyelesaikan masalah secara tuntas dengan berlandaskan pada
basis pengetahuan yang bersumber dari hasil membaca dan menulis. Dalam kacamata
konsep pembangunan masyarakat selalu
dihubungkan dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan.
Pada dasarnya, pemberdayaan diletakkan pada kekuatan tingkat individu dan
sosial. Literasi informasi merupakan komponen penting dalam pembangkitan
kemandirian dan proses pemberdayaan. Sebaiknya orang-orang harus terlibat dalam
proses tersebut sehingga mereka dapat lebih memperhatikan hidupnya untuk
memperoleh rasa percaya diri, memiliki harga diri dan pengetahuan untuk
mengembangkan keahlian baru. Prosesnya dilakukan secara kumulatif sehingga
semakin banyak keterampilan yang dimiliki seseorang semakin baik pula kemampuan
partisipasinya” (Hikmat, 2004).
Senada, dengan apa yang disampaikan bahwa Literasi
Perikanan memiliki dampak positif terhadap sector perikanan. Dengan adanya basis pengetahuan secara
individu maupun komunal akan mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk ikut
dalam pembangunan sector perikanan. Terlepas dari itu semua pemerintah perlu
menyusun kebijakan mengenai Literasi Perikanan sebagai wujud kerja dan
keberpihakan akan peninglatan SDM di sector Perikanan.
![]() |
| Penulis : Jan Tuheteru (Sekjen HIMAPIKANI 2021-2023) |
