Blue Ecomony (Ekonomi Biru) Penerapannya dalam Program Pembangunan LIN Maluku

Sektor perikanan masih menjadi bidang yang kurang di lirik oleh pemerintah dewasa ini. Hal ini di buktikan dengan berbagai kebijakan yang tidak memiliki tendensi terhadap peningkatan sector perikanan. Pemerintah masih condong dalam pembahasan berkaitan dengan batu bara, migas dan lain sebagainya, walaupun harus di akui korelasi kepentingan elitis masih bergumul di sector-sektor tersebut. Kacamata Negara terhadap sector perikanan perlu di fokuskan, hal ini karena potensi perikanan pada peningkatan devisa Negara tidak bisa di anggap sebelah mata. Dengan demikian kebijakan yang pro terhadap pembangunan sector perikanan harus di galakan secara massif.

Selaras dengan hal di muka, program pembangunan LIN (Lumbung Ikan Nasional) Maluku menjadi angin segar bagi pelaku-pelaku perikanan terkhususnya di daerah Maluku. Koheren dengan kekayaan sumber daya alam yang di maluku, dimana potensi perikanan yang  terakumulasi dalam tiga wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) yakni, WPPNRI 714, 715 dan 718 yang di dalamnya meliputi Laut Banda, Laut Halmahera hingga Laut Arafuru. Perecanaan pembanguna LIN di Maluku sebenarnya sudah cukup lama, di masa kepemimpinan Presiden SBY LIN di gadang-gadang akan menjadi pusat perekonomian baru bagi Negara, namun proses realisasi mengalami kemandekan, hal yang sama juga terjadi di masa kepemimpinan Jokowi dengan dua mentri nya yakni Susi Pudjiastuti dan Edhy Prabowo yang terjerat kasus suap benih lobster beberapa bulan lalu. Dengan bergantinya Nahkoda baru di kementrian kelautan dan perikanan, sangat di harapkan upaya realisasi LIN dapat berjalan sesuai dengan semestinya.

Kunjungan menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono ke Maluku, Juma’at (5/2/2020) adalah upaya peninjauan langsung ke lapang serta melakukan koordinasi dengan pimpinan daerah menjadi langkah awal perealisasasian pembangunan. Orientasi pembangunan LIN maluku akan di dukung oleh kawasan terpadu pelabuhan perikanan. Ini menunjukan kelengkapan kompleksitas bangunan mulai pelabuhan perikanan, dermaga, pabrik es, tempat penyimpanan, laboratorium, hingga pada pusat kuliner. Sistematika hulu-hilir kawasan terpadu perlu di kaji secara detail sehingga tidak menimbulkan dampak negative terhadap lingkungan. Sebab lahan atau wilayah yang di gunakan sangat luas, maka dari itu pengkajian aspek-aspek penempatan bangunan perlu menjadi kajian kritis oleh pihak-pihak terkait.

Berangkat dari prespektif itulah, maka Blue Economy di rasa relevan untuk di pakai dalam pembangunan LIN di Maluku. Konsep ekonomi biru pertama kali di kenalkan oleh Prof. Gunter Paulif dalam  Bukunya yang berjudul The Blue Economy, 10 Years, 100 Innovations, 100 Millions Jobs. Buku ini menggambarkan secara utuh potensi dan manfaat bagi perlindungan lingkungan hidup komunitas dunia, pelesatarian sumber daya alam, inisiatif pengurangan biaya industri dengan pengalihan pada konsumsi energi hijau, bersih, hasil dari daur ulang atau terbarukan.

Blue Ekonomy bisa di katakan sebagai konep ekonomi yang pro terhadap lingkungan. Prinsipnya mengarah pada optimalisasi sumber daya perairan yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kegiatan yang inovatif dan kreatif dengan tetap menjamin keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan. Inilah yang kemudian perlu di lihat secara detail mengenai pembangunan LIN di maluku, pembanungan kawasan secara terpadu antara pelabuhan dan kawasan industrialisasi perikanan menjadi obyek vital adanya kerusakan lahan. Senada dengan hal tersebut, konsep industrialisasi perikanan merupakan model kegiatan usaha yang bangun secara berkelanjutan dengan memiliki orientasi pada pasar ekspor. Oleh karena itu demi menjaga trust konsumen maka di perlukan prosedural yang sesuai dengan standar yang di tentukan. Standarisasi global yang sudah melalui konsersium mengharuskan produk yang di eksopr harus memiliki syarat tracebillity produk. Ini pun berlaku sama dalam produk-produk perikanan.

Penerapan Blue Economy di sector perikanan dan kelautan sangatlah cocok, hal ini juga di dukung oleh pendapat Jusuf (2012) bahwa ekonomi biru (Blue Ecomony) dapat dilihat sebagai tindakan yang bertumpu pada pengembangan ekonomi rakyat secara komperhensif guna mencapai pembangunan nasional secara keseluruhan”. Lagi-lagi perlu di pahami bahwa ekonomi biru (Blue Economy) menitik beratkan pada keberlajutan lingkungan itu sendri, sehingga tidak bisa di fragmen atau di pisahkan antara ekomoni dan lingkungan. Disinlah titik sebenarnya, problem itu sering terjadi. Pembangunan sebagai dalih peningkatan ekonomi Negara sering di jadikan sebagai senjata yang ampuh untuk merusak lingkungan. Sehingga perlu adanya penyadaran secara bersama oleh seluruh elemen terhadap keberlanjutan lingkungan dengan tetap kreatif dan inovatif dalam meningkatkan ekonomi nasional maupun regional.

Selain itu, Ekonomi biru (Blue Economy) akan berkelindang dengan pelaksanaan triple track strategy, yaitu program pro-poor (Pengentasan Kemiskinan), Pro-growth ( Pertumbuhan), Projob (Peneyerapan tenaga kerja) dan Pro-environtment (melestarikan lingkungan). Inilah yang menjadi urgensi pendekatan pembangunan yang berbasis ekonomi biru (Blue Economy).

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama