Pandemi Covid-19 dan Kapitalisme Peternakan Terhadap Anjloknya Harga Ayam Broiler


Boleh dikatakan covid-19 telah menjadi satu wabah baru yang sangat mencengangkan bagi dunia. Muncul pertama kali di kota Wuhan, China pada akhir tahun 2019 dan telah mewabah ke seluruh penjuru dunia. Sampai tulisan ini dibuat belum ditemukan obat untuk menghentikan penyebaran virus ini. Namun bila dicermarti implikasi dari adanya virus covid-19 sangatlah terasa pada perekonomian, entah nasional maupun internasional. 

Bila melihat dan mengintepretasikan tema yang di angkat pasti akan menimbulkan konklusi bahwa anjloknya harga ayam di sebabkan karena adanya Pandemi Covid-19 dan Kapitalisme ternak. Proses memvalidasi hal tersebut perlu di tampilkan secara obyektif dan kritis. Sehingga menjadikan para khalayak mengetahui secara holistik mengenai problema peternakan yang ada di Indonesia.

Upaya melakukan sinkronisasi Pandemi Covid-19 dan Kapitalisme Peternakan terhadap anjloknya harga ayam di pasaran menjadi tantangan tersendiri, sebab hemat penulis mengelaborasikan kedua hal ini perlu melihat secara jelih kondisi lapang yang berkaitan dengan selok-belok kehidupan peternakakan ayam.  

Singkat Genealogi Ayam Broiler di Indonesia
Perkembangan ayam broiler di Indonesia boleh dikatakan mengalami peningkatan secara cepat dan meluas. Masuk pertama kali di Indonesia pada tahun Pada 1953—1960 dengan tujuan memenuhi pasar local di kala itu yang masih kekurangan stock daging ayam. GAPUSI atau Gabungan Penggemar Unggas Indonesia menjadi pelopor pengimpor ayam broiler di Indonesia. Namun menariknya kehadiran broiler menjadi semangat peningkatan ekonomi kerakyatan yang memang di besarkan oleh peternak rakyat.

Tahun 1981 menjadi awal masuknya pemodal besar (Kapitalis) dan Industri besar dalam dunia peternakan ayam broiler di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri keunggulan ayam broiler memiliki daya tarik, sehingga dapat mendatangkan para kaum kapitalis sampai saat ini.

Kapitalisme peternakan ayam broiler di Indonesia
Iya, kenapa kapitalisme peternakan ? sebab hal tersebut lebih berkaitan dengan para kaum-kaum pemodal besar dalam dunia peternak broiler. Pada prinsipnya kapitalisme selalu mengedepankan keuntungan besar dengan cara mengeksplitasi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Selaras dengan hal itu kapitalisme ternak memiliki semangat yang sama. Inilah titik ketegangan yang terjadi antara kaum pemodal besar dan para peternak rakyat.

Dalam kacamata empiris, peternak rakyat selalu kalah apabila bersaing harga ayam dengan para kaum kapitalis ternak. Bukan tanpa alasan, pada wilayah produksi contohnya kaum kapitalis akan lebih banyak menghasilkan ayam broiler di bandingkan dengan para peternak rakyat. Inheren harga ayam di gelontorkan oleh kaum kapitalis akan lebih murah. Inilah yang menyebabkan banyak peternak rakyat yang gulung tikar. Apa jadi nya ? pengangguran dimana-mana, kemiskinana merjalela.

Beberapa minggu ini, banyak pemberitaan yang menayangkan mengenai anjloknya harga ayam broiler di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung harga ayam broiler hanya mennyentuh angka Rp 8.000-9.000/Kg. Penurunan harga ayam broiler memang berlangsung sudah sejak 2 tahun lalu. Di tahun 2019 adalah puncak kerugian yang sangat besar, jumlah kerugian akumulatif mencapai 2 Triliun. Di tahun 2020 di prediksi bahwa angka kerugian dapat mengalami peningkatan yang lebih besar, hal ini dasarkan pada tingkat pembelian ayam broiler. Pandemic covid-19 adalah pemicu menurunya harga ayam di pasar di tahun ini. Realitas bahwa wabah covid-19 membatasi ruang gerak konsumen sehingga daya beli menjadi menurun.

Dalam hemat penulis yang terdampak paling signifikan adalah para peternak rakyat, kenapa demikian ? dengan jumlah produksi yang sedikit di tambah persaingan dengan para kaum kapitalis ternak yang sudah pastinya memiliki tingkat produksi tinggi. Maka kaum peternak semakin termarjinalkan atau teralienasi dalam pusaran usaha peternakan ayam broiler di Indonesia. Inilah sebenarnya yang perlu kita cermati secara bersama. Bahwa perlu adanya keseimbangan antara para kaum kapitalis ternak dan para peternak rakyat.

Apa yang harus dilakukan dilakukan ?
Dimasa pandemic covid-19 dewasa ini, maka perlu ada solusi alternatf dalam menjaga harga ayam broiler dipasaran. Langkah-langkah alternatif yang dapat dilakukan diantaranya, adanya komitmen semua elemen peternakan, Regulasi yang pro rakyat, kemitraan yang adil serta support permodalan. Untuk itu perlu adanya checks anda balances yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatur harga ayam secara transparan dan tidak memihak kepada kaum kapitalis.

Inilah langkah-langkah yang perlu dilakukan demi manjaga stabilitas harga ayam broiler di Indonesia. Terlepas dari hal tersebut kesejatrahan para rakyat menjadi prioritas negara sesuai dengan amanah UUD 1945.    
Lebih baru Lebih lama